Hanya Aku yang Sekarat, Sedangkan Kau Semakin Kuat
Aku kamu pernah bertemu.
Kemudian menjadi kita.
Hingga pada akhirnya kembal menjadi aku kamu.
Perlahan-lahan melangkah saling menjauh, benar-benar menjauh, dan terlupakan. Tepatnya saling melupakan.
Dulu kitaam saling berbagi cerita tentang keberhasilan masing-masing.
Aku sering bercerita tentang nilai yang aku peroleh.
Tentang peringkat kelas yang aku peroleh.
Bahkan tak jarang kamu telah menembaknya terlebih dahulu.
Sama halnya seperti aku yang selalu bercerita tentang apa yang aku dapatkan.
Kamu juga sering menceritakan bagaimana kamu memenangkan rode demi ronde dalam pertandingan.
Kemudian medali apa yang dikalungkan dilehermu.
Mengenai melupakan, bukankah itu sebuah keberhasilan?
Lantas, mengapa kita tak saling bercerita tentang keberhasilan ini?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi aku?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi kamu?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi puing kenangan yang selalu kita bunuh dalam ingatan.
Jika kau menanyakan hal yang sama, aku tanpa ragu menjawab.
Benar, ini sangat sulit bagiku.
Secara paksa aku harus pura-pura tuli,
Pura-pura buta
Pura-pura tak miliki rasa
Pura-pura mati separuh raga
Ini pilu, ini sakit, ini kelu...
Kau tahu itu kan??
Entalah, apakah di seberang sana kau rasakan yang sama.
Atau bahkan sebaliknya.
Hanya aku yang sekarat, sedangkan kau semakin kuat.
Kemudian menjadi kita.
Hingga pada akhirnya kembal menjadi aku kamu.
Perlahan-lahan melangkah saling menjauh, benar-benar menjauh, dan terlupakan. Tepatnya saling melupakan.
Dulu kitaam saling berbagi cerita tentang keberhasilan masing-masing.
Aku sering bercerita tentang nilai yang aku peroleh.
Tentang peringkat kelas yang aku peroleh.
Bahkan tak jarang kamu telah menembaknya terlebih dahulu.
Sama halnya seperti aku yang selalu bercerita tentang apa yang aku dapatkan.
Kamu juga sering menceritakan bagaimana kamu memenangkan rode demi ronde dalam pertandingan.
Kemudian medali apa yang dikalungkan dilehermu.
Mengenai melupakan, bukankah itu sebuah keberhasilan?
Lantas, mengapa kita tak saling bercerita tentang keberhasilan ini?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi aku?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi kamu?
Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi puing kenangan yang selalu kita bunuh dalam ingatan.
Jika kau menanyakan hal yang sama, aku tanpa ragu menjawab.
Benar, ini sangat sulit bagiku.
Secara paksa aku harus pura-pura tuli,
Pura-pura buta
Pura-pura tak miliki rasa
Pura-pura mati separuh raga
Ini pilu, ini sakit, ini kelu...
Kau tahu itu kan??
Entalah, apakah di seberang sana kau rasakan yang sama.
Atau bahkan sebaliknya.
Hanya aku yang sekarat, sedangkan kau semakin kuat.
Komentar
Posting Komentar