Postingan

Menampilkan postingan dari 2016
Mungkin bukan aku yang tak benar-benar menaruh hati pada yang lain, hanya saja dulu aku pernah menanaruh hati pada hatimu teramat dalam. Ketika terlukapun, hanya sampai epidermisnya saja. Jadi rasa yang sudah tertanam dalam masih bersusah payah memunculkan benih-benih baru yang lebih kokoh.

Terbang

Everyday is Monday. Ini yang selalu aku katakan ketika weekendku menjelma menjadi weekday. Setiap minggu aku dan beberapa rekanku berkunjung ke panti asuhan untuk mengajar dan belajar. Mengajarkan anak-anak untuk bisa berbahasa inggis dan membantu tugas-tugas sekolah lainnya. Belajar tentang apa-apa yang dapat dijadikan pelajaran dan hikmah. Hampir 6 bulan aku aktif sekedarnya, bukan karena apa-apa. Tapi memang tuntutan tugas perkuliahan yang tak bisa diduakan. Hari ini aku kembali menyempatkan diri menemui mereka. Yah benar, hanya untuk menemui mereka. Malaikat-malaikat kecil yang terpaksa dibesarkan tanpa kedua orang tua dan keluarga dekat. Banyak yang berbeda. Ruangan, fasilitas, warna, arah, bahkan suasana. Merekapun berbeda, semuanya tak lagi yang pernah ku temui beberapa bulan lalu. Hanya beberapa saja yang aku kenal. Beberapa lainnya anak-anak baru. Yang tak pernah berbeda adalah hangatnya rumah ini. Hangatnya mereka bercanda dan bekerjasama dengan kakak yang ...

Bagian Termanis

Menjadi mahasiswa adalah hal yang sangat didambakan. Jauh-jauh hari sudah menyusun serangkaian rencana untuk status yang disebut mahasiswa ini. Ketika masih mengenakan rok merah, baju putih, dasi merah, dan topi merah putih bertuliskan "Tut Wuri Handayani". Sudah terbayang betapa indahnya menyandang status Mahasiswa. Dalam usia sekecil itu, sudah memikirkan PTN mana yang akan dipilih. Ketika sudah menjadi Mahasiswa, memang apa yang dibayangkan benar-benar indah adanya. Hal ini bertahan hingga semester tujuh. Dengan berakhirnya semester tujuh, saat itulah  beban skripsi melanda.

Pengamen apa Penga(nggu)men?

Sore ini saya bakalan nulis tentang satu hal yang menarik untuk direnungkan. Hal menarik ini saya temukan dalam perjalanan menuju tanah kelahiran.

Hanya Aku yang Sekarat, Sedangkan Kau Semakin Kuat

Aku kamu pernah bertemu. Kemudian menjadi kita. Hingga pada akhirnya kembal menjadi aku kamu. Perlahan-lahan melangkah saling menjauh, benar-benar menjauh, dan terlupakan. Tepatnya saling melupakan. Dulu kitaam saling berbagi cerita tentang keberhasilan masing-masing. Aku sering bercerita tentang nilai yang aku peroleh. Tentang peringkat kelas yang aku peroleh. Bahkan tak jarang kamu telah menembaknya terlebih dahulu. Sama halnya seperti aku yang selalu bercerita tentang apa yang aku dapatkan. Kamu juga sering menceritakan bagaimana kamu memenangkan rode demi ronde dalam pertandingan. Kemudian medali apa yang dikalungkan dilehermu. Mengenai melupakan, bukankah itu sebuah keberhasilan? Lantas, mengapa kita tak saling bercerita tentang keberhasilan ini? Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi aku? Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi kamu? Apakah ini sulit bagimu yang kini kita telah menjadi puing kenangan yang selalu kita bunuh dalam ingata...

Bukan Jaminan Rasakan yang Sama

Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak baik untukku dan untuk agamaku, Maka jauhkanlah" Doa yang sama untuk nama yang sema selalu aku munajadkan. Tak jarang beberapa kata ini berhasil membuat aliran sungai di wajahku. Berulang kali aku ingatan menarikku kebelakang. Ke waktu-waktu lampau yang dulu membuatku tersenyum. Namun ketika mengingatnya kembali saat ini, aku tak lagi tersenyum. Namun meneteskan air mata. Hidup seaneh itu ya. Mengalami dan mengenang hal yang sama ternyata bukan jaminan merasakan hal yang sama. Berurai tawa ketika mengalami dan berurai tangis ketika mengenang.
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak baik untukku dan untuk agamaku, Maka jauhkanlah" Doa yang sama untuk nama yang sema selalu aku munajadkan. Tak jarang beberapa kata ini berhasil membuat aliran sungai di wajahku. Ber
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak baik untukku dan untuk agamaku, Maka jauhkanlah" Doa yang sama untuk nama yang sema selalu aku munajadkan. Tak jarang bebera
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak baik untukku dan untuk agamaku, Maka jauhkanlah" Dia
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak baik
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika d
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah. Namun jika dia tidak
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya seperti ini "Ya Rabb... Jika dia baik untukku dan untuk agamaku, Maka dekatkanlah.
Aku pernah berdoa untuk satu nama. Doanya

Ups! Pernikahan.

Dulu ketika umur belasan tahun.

Tumbuh Lebih Kokoh

Aku dulu pernah benar-benar menjatuhkan hati padamu. Kau tahu yang namanya rindu? Aku mengumpamakannya laksana pohon. Dulu dia mati. Namun lama kelamaan, benihnya kembali tumbuh. Lebih subur dari sebelumnya. Lebih kokoh. Lebih kuat. Akarnya kini membumi lebih dalam di hati. Dulu dia mati perlahan dengan sendirinya. Sekarang ketika dia tumbuh lebih kokoh, aku mulai menaruh keraguan. Akankah buah rindu ini milikku. Atau milik tangan sembarangan yang memetiknya sebelum ranum. Tentu saja aku berdoa agar kelak buah rindu ini milikku. Aku akan memagarinya lewat doa-doa walaupun pohon rindu tak mendengar lantunan doa-doa yang tak pernah bosan kumunajatkan itu.

Rindu

Rindu terkadang membuatmu menjadi sedikit bodoh. Hari ini saya dan ketiga teman saya jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan di kota kami. Kebetulan salah seorang teman cowok saya membeli beberapa perlengkapan perawatan. Seperti sabun, parfum, minya rambut, dan lain-lain. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada minyak rambut merek *JA. Teringat bahwa dulu saya sering menemani seseorang special untuk membeli perlengkapan seperti ini. Bedanya dulu saya menemani seseorang yang menempati satu ruang dalam di hati. Untuk sekedar mengenang, saya terbesit untuk mencium wanginya minyak rambut itu. Kemudian saya beranjak ke estalase lainnya. Estalase parfum, saya mengambil sebuah parfum dengan kotak berwarna hitam. Saya buka tutupnya, dan hal yang sama seperti minyak rambut tadipun saya lakukan. Mata saya berkaca-kaca menikmati aroma yang tercium. Rindu terkadang membuatmu bodoh.

Alasan tanpa Penjelasan

Segala sesuatu yang dilakukan butuh alasan. Apa yang ingin dituju, butuh alasan. Semua yang diungkapkan, butuh alasan. Misalnya seputar rasa yang mengisi relung dada. Entah itu cinta, entah itu benci. Kenapa semuanya menanyakan alasan? Setiap alasan minta dijelaskan. Perihal ini terasa sulit, terkadang. Aku ingin setiap alasan tak perlu penjelasan. Tak perlu dijelaskan. Izinkan hati ini untuk serakah menikmati rasa yang menggugah tanpa beban untaian penjelasan.

Bahkan Jika Tak Ingin Sekalipun

Pertemuan tak selamanya terencana. Pertemuan tak terduga kadang membawa cerita tak biasa. Pernah berpikir untuk menyesali pertemuan tak terduga yang pernah terjadi. Namun hati meronta. Sehebat apakah diri ini untuk berlaku seperti itu? Bukankah segalanya telah ditakdirkan? Bukanlah segala sesuatunya telah tertulis di Lauh Mahfuz?

Bahkan Jika Tak Ingin Sekalipun

Pertemuan tak selamanya terencana. Pertemuan tak terduga kadang membawa cerita tak biasa. Beberapa a

Bahkan Jika Tak Ingin Sekalipun

Pertemuan tak selamanya terencana. Pertemuan ta

Pertemuan ini Bukan Aku yang Mau

Apapun yang terjadi di dunia ini tak terlepas dari takdir Sang Maha Kuasa Maut, rezki, dan jodoh telah ditetapkan. Sebuah pertemuan adalah awal dari ketiganya. Tak ak
Bahagia Bahagia itu Kita yang cipta Kita yang punya. Kita yang rasa. Seseorang punya porsi bahagia masing-masing. Sebahagian merasa bahagia dalam ketidakadaan. Sebahagian lain merasa bahagia dalam kesederhanaan. Sebahagian lagi merasa bahagia dengan segala kemewahan yang ada. Bahagia sesungguhnya adalah ketika kita merasa cukup dan bersyukur atas apa yang ada. Allah telah mengatakan bahwa siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat baginya. Bahagia atas nikmat Allah benar-benar tak dapat dikata. Tak perlu untaian kata para manusia-manusia pemuja. Ya Rabb, jadikanlah hamba pribadi yang selalu bersyukur. Dalam ada dan tiada, dalam lapang dan sempit, dalam cukup dan kurang. Dalam tinggi dan rendah, dalam suka dan duku. Dalam setiap nikmatmu yang kau curahkan. Aamiin ya Rabb.