Leadership of Barack Obama
Kepemimpinan
ala Barack Obama
BARACK OBAMA
‘The Wind of Change’
DARI PERSPEKTIF ’LEADERSHIP CHALLENGE’

I. PENDAHULUAN
Seorang calon pemimpin akan selalu
mengkumandangkan sebuah angin perubahan untuk memukau publik dalam sebuah
suksesi pemerintahan. Janji-janji akan ditabur untuk menuai pengikut yang
banyak dalam proses pencalonan diri sebagai seorang yang akan berdiri di garda
terdepan. Janji dan ucapan manis disemayamkan dalam setiap sanubari yang
mengimpikan sebuah perubahan. Disamping itu, pencitraan diri diwujudkan dalam
berbagai bentuk baik melalui slogan seperti JULU (Jujur dan Lurus) maupun iklan dokumenter demi terwujudnya
sebuah visi.
‘Perubahan belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik,
tetapi tanpa perubahan tak ada kemajuan, tak ada pembaruan.’ Tema perubahan menjadi kunci Barack Obama untuk menjadi
calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Ia menyuarakan
mutlaknya perubahan di Washington DC sambil menyebutkan John McCain identik
dengan Presiden George W Bush yang telah membuat AS terpuruk [1].
Barack Obama, seorang muda, setengah hitam, anggota
Senat dari Negara Bagian Illinois yang baru dipilih dua tahun lalu, dipastikan
akan dinobatkan partainya sebagai calon presiden dalam pemilihan umum Amerika
bulan November mendatang. Ia mengalahkan selusin politisi kawakan yang jam
terbangnya lebih tinggi, termasuk Hillary Clinton, Senator senior New York,
politikus perempuan paling mencolok di AS selama puluhan tahun [2].
Moto ‘the wind of
change’ yang di usung
oleh Barack Obama adalah “I’M ASKING YOU
TO BELIEVE. Not just in my abiltity to bring about the real change in
Washington…I’m asking you to believe in yours.” Obama ingin
mengajak rakyat AS untuk tidak menaruh harapan terbesar akan angin perubahan pada pundaknya, namun ia mengajak
seluruh elemen masyarakat AS untuk melihat dan memulai perubahan dengan yakin
dan percaya bahwa perubahan itu datang dari masyarakat AS untuk memberi
atmosfir pembaruan pada pemerintahan Amerika Serikat.
II. DASAR TEORI
II. 1. DEFINISI DAN LIMA PRAKTEK
FUNDAMENTAL KEPEMIMPINAN DALAM THE LEADERSHIP CHALLENGE
The Leadership Challenge adalah suatu
pendekatan gaya kepemimpinan yang berfokus pada karakter pemimpin untuk merubah
dan mentransformasikan para individu pengikutnya. Disamping itu, The Leadership Challeng juga
menekanakn kepada perilaku para pemimpin untuk mengubah kesempatan yang
menantang menjadi sebuah kesuksesan yang luar biasa. Istilah Leadership Challenge ini
diperkenalkan oleh James M Kuezes dan Barry Z. Posner pada tahun 1995 melalui
penelitian-penelitian panjang dari tahun 1985.
The Leadership Challenge menekankan pada
lima praktek fundamental dari kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin berada pada
posisi terbaik maka ia mampu untuk:
1. Challenge the process, dimana seorang
pemimpin adalah seorang pioneer. Seorang yang berani untuk berhadapan dengan
hal yang belum ia pahami. Ia berani untuk mengambil resiko, membuat inovasi dan
bereksperimen untuk menemukan gaya baru dan yang terbaik untuk memimpin.
2. Inspire a shared vision, dimana seorang
pemimpin mampu untuk memandang melampaui cakrawala pemikiran orang lain,
berpikir jauh kedepan akan kesempatan yang memukau. Ia juga harus memiliki
hasrat dan motivas untuk membuat impiannya tercapai, memberikan pembaruan akan
keadaan dan situasi yang sedang terjadi, memberikan sebuah terobosan inovasi
dimana belum pernah dilakukan oleh siapapun. Seorang pemimpin yang ’in spire a shared vision’ tidak
memberikan komando akan komitment yang telah disepakati namun memberikan
inspirasi terhadap komitment yang telah dibuatnya.
3. Enable others to act, dimana
seoarang pemimpin menyadari bahwa tidak seorang yang mampu melakukan yang
terbaik dalam karyanya jika ia dalam kondisi lemah, tidak berkompeten. Dengan
demikian, maka seorang pemimpin merasa bahwa para pengikutnya akan memberikan
karya yang baik jika mereka juga memililki rasa saling memiliki. Pemimpin akan
lebih mengutamakan kerjasama atau kolaborasi, saling percaya dalam pencapaian
hasil yang maksimal.
4. Model the way, dimana seorang
pemimpin menjadi model dan contoh bagi pengikutnya melalui contoh personal dan
perilaku yang berdedikasi. Untuk memberikan model yang efektif seorang pemimpin
harus memiliki pedoman prinsip yang memberi arahan dan bimbingan sehingga ia
memiliki keyakinan dan rasa percaya diri dalam memberikan contoh atau modelling yang baik
untuk pengikutnya.
5. Encourage the heart, dimana
seorang pemimpin memberikan dorongan dengan sepenuh hati dan jiwanya untuk
memberikan motivasi dan dukungan kepada pengikutnya. Kadang dalam proses
kreasi, para pengikut merasa lelah, jenuh dan bosan maka peran terbesar dari
seorang pemimpin adalah memberikan dukungan kepada pengikutnya. Sebuah
penguatan dan motivasi dapat berupa perilaku sederhana seperti memberi tepukan
pada pundak dan gerakan tubuh lainnya.
II. 2. CARA KERJA GAYA KEPEMIMPINAN ‘A LEADER WHO INSPIRES
A SHARED VISION’
Gaya
kepemimpinan seorang pemimpin yang ’inspire a shared vision’ harus memiliki arah yang jelas dan
tepat akan dibawah kemana para pengikutnya. Kekuatan dan kemampuan untuk
melihat jauh kedepan membedakan seorang pemimpin yang memiliki kredibilitas.
Ada dua hal penting dalam pendekatan gaya kepemimpinan ini yaitu seorang
pemimpin harus menguasai esensi dari:
1. Imagining the ideal, untuk
memperjelas hal ini maka dipakai kata visi. Visi memiliki konotasi a standard of exellence, sebuah hal
yang ideal atau sebuah nilai. Untuk mencapai sebuah hal yang ideal maka seorang
pemimpin harus memiliki kemampuan membayangkan hal-hal prinsipil dalam mencapai
visinya. Merupakan sebuah kebanggaan bagi seorang pemimpin yang memiliki visi
dengan keunikannya, karena keunikan ini membedakan dia dengan pemimpin yang
lainnya. Keunikan mendatangkan sebuah kebanggaan karena memiliki sebuah
pemikiran yang berbeda.
Disamping itu,
visi adalah sebuah akhir dari sebuah perjalanan panjang. Visi mendorong seorang
pemimpin untuk berorientasi terhadap masa depan.
2. Intuiting the future, dimana seorang
pemimpin memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dengan menggunakan
pengalaman masa lalu sebagai guru yang baik. Intuisi adalah penggabungan antara
pengetahuan dan pengalaman untuk menciptakan sebuah pandangan baru. Kebijakan
seorang pemimpin tidak terlepas dari pengalaman yang menjadi salah satu tolak
ukur untuk mengkaji keadaan masa sekarang. Dengan demikian pengalaman
memberikan pegangan untuk menggali dan mengembangkan semua potensi masa
sekarang untuk kemajuan dan pembaruan di masa yang akan datang.
Meski namanya baru dikenal publik Amerika Serikat (AS)
sekitar 2 tahun lalu, namun kehadirannya sudah mampu menandingi pesaing lainnya
dalam kancah kandidat presiden AS. Barack
Obama dikenal sebagai seorang sosok politisi yang senang berkomunikasi baik
langsung maupun tidak dengan warga AS. Beliau seringkali menuangkan isi
pikiran, pendapat serta ide-ide barunya yang dikemas dalam sebuah audiofile
podcasting yang selalu bisa diakses oleh publik di seluruh dunia. Suaranya yang
bersahaja dan ramah mengesankan seolah-olah beliau sedang berbicara langsung
secara personal kepada para pendengarnya. Hal ini tentunya patut dijadikan
sebuah keuntungan yang belum tentu dimiliki oleh setiap politisi dimanapun.
Baru-baru ini, Obama juga menggelar sebuah orasi, sebuah kegiatan yang
sering beliau lakukan dan berorasi memang suatu kehandalan yang dimilikinya.
Orasinya kali ini dilakukan di sebuah taman di Nevada pada waktu siang hari.
Walaupun teriknya matahari terasa sungguh menyengat siang itu, namun tidak ada
satu orang pun yang malah sibuk mencari tempat teduh di taman tersebut. Semua
pengunjung taman tampak terkesima dengan orasi yang disampaikan Obama siang itu. Tidak ada satupun kandidat presiden AS
lainnya yang mampu mengumpulkan begitu banyak orang yang bersemangat ingin
mendengarkan orasi seorang politisi. Beberapa pengunjung yakin bahwa ”dialah
orang yang ditunggu-tunggu Amerika”. Salah seorang pengunjung taman yang
kebetulan juga seorang penggemar Obama, Michelle, pernah menuliskan pesan di situs web-nya Obama. Pesannya adalah bahwa ia berharap akan ada peraturan
yang menyulitkan orang-orang yang berpenyakit mental dalam memperoleh/membeli
senapan. Tidak lama kemudian, Obama membuat usulan yang sama persis. Michelle beranggapan
bahwa usulan yang dibuatnyalah yang menginspirasi Obama. Namun orang lain beranggapan bahwa usulan Obama semata hanya karena kasus penembak yang membunuh 32
orang di Virginia beberapa waktu lalu.
Siapakah Obama sebenarnya? Ia mengaku dirinya adalah anak dari
ayahnya yang berdarah Kenya yang kesehariannya menggembala kambing. Suatu masa,
ayahnya mendapat beasiswa untuk belajar di AS, dimana ia akhirnya menikah
dengan seorang wanita berkulit putih dari Kansas. Walaupun orang tuanya tidak
kaya, tapi mereka berhasil menyekolahkan anaknya di Harvard.
Sekarang ini, mungkin kulit hitamnya bisa membantu
posisinya dalam pemilu presiden nanti. Beberapa generasi lalu, hal ini justru
akan merugikan dan bahkan fatal bagi dirinya. Namun kini, masyarakat kulit
putih AS justru menilai hal ini sebagai tanda optimistik dari fron rasial.
Banyak diantara mereka akan memilih presiden berkulit hitam dan menunjukkan
pada dunia, dan diri mereka sendiri, bahwa kulit hitam bukanlah pecundang.
Beberapa juga berpendapat bahwa, ”Saatnya telah tiba. Sejauh ini hanya ada pria
kulit putih dari kalangan kelas atas.”
Keadaan sekarang ini tentunya merupakan sebuah
kesempatan dan keuntungan yang harus diraih oleh Obama. Meski beberapa masyarakat kulit hitam masih
meragukan posisi Obama “di kalangan kulit hitam”, karena nenek moyangnya
tidak dibawa ke AS sebagai budak dan beliau juga tidak memegang peran dalam
gerakan memperjuangkan hak-hak sipil. Menanggapi ini, Obama berkata bahwa dirinya telah banyak berjuang melawan
isu rasial. Dalam otobiografinya, beliau ingat akan masa kecilnya dimana
seorang kulit hitam telah disiksa dengan menggunakan racun kimia untuk
memutihkan kulitnya. Beliau juga pernah menonjok seseorang yang menghinanya dan
mengejeknya. Namun sebagai seorang yang berpikiran secara dewasa, dirinya
memilih untuk menempuh jalan konsiliasi dibanding konflik.
Posisinya mengenai perang Irak sangat jelas. Sedikit
berbeda dari lawan utamanya, sejak awal, Obama jelas mengatakan tidak setuju dengan perang Irak.
Berbicara mengenai kebijakan luar negeri, dirinya bersikap ambisius dan
idealistik. Secara gamblang beliau berkata bahwa posisi sebagai pemimpin bagi
dunia bebas ini terbuka lebar dan dia ingin menempati posisi tersebut. Obama ingin bekerja dengan Rusia untuk mengamankan
bahan-bahan nuklir, pada saat bersamaan mendorong demokrasi dan transparansi di
sana. Beliau juga ingin memperkuat NATO, membangun aliansi baru di Asia, menghentikan
genosida di Darfur, memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah, dan membantu
negara-negara miskin membangun ekonomi pasar yang berfungsi. Obama tidak berbicara banyak mengenai ekonomi. Ia hanya
ingin mengalokasikan dana yang lebih besar untuk sekolah, subsidi kesehatan,
dan kepentingan veteran.
III. 2. KEBIJAKAN BARACK OBAMA DALAM
PENDIDIKAN
Kebijakan Barack
Obama dalam Pendidikan adalah[4]:
1. Reform No Child Left Behind.
2. Ensure access to high-quality
early childhood education programs and child care opportunities so children
enter kindergarten ready to learn.
3. Work to recruit well-qualified
teachers to every classroom in America, especially those in high-poverty,
high-minority areas.
4. Reward expert, accomplished
teachers for taking on challenging assignments and helping children succeed.
5. Support highly-competent
principals and school leaders.
6. Make science and math education a
national priority.
7. Reduce the high school dropout
rate by focusing on proven methods to improve student achievement and enhance
graduation and higher education opportunities.
8. Close the achievement gap and
invest in what works.
9. Empower parents to raise healthy
and successful children by taking a greater role in their child’s education at
home and at school.
IV. KESIMPULAN
Sebagai calon
presiden Amerika Serikat, kehadiran Barack Obama seperti sebuah oase dalam
kegersangan rakyat Amerika Serikat akan kepemimpinan Presiden George W. Bush.
Visi perubahan dengan akan melakukan torobosan pembaruan jika terpilih nanti
pada bulan November membuat rakyat AS merasa yakin bahwa Obamalah yang akan
melakukan pembaruan akan kehancuran yang telah dilakukan oleh Presiden George
W. Bush.
The Wind of Change yang diusung
oleh Obama untuk mengkritis kepemimpinan Presiden George W. Bush adalah perang
melawan Irak. Obama melihat bahwa perang Irak akan hanya mendatangkan
kesengsaraan bagi kedua belah pihak apapun alasannya. Amerika menghancurkan
Irak sehingga menimbulkan kesan dan gambaran bahwa rakyat AS mencintai
peperangan. Kondisi ini akan membuat dunia internasional memandang skeptis
terhadap kebijakan luar negerei Amerika Serikat. Kepekaan Obama terhadap akibat
dan bencana perang bahkan membuatnya secara terang-terangan mengkritik Hillary
Clinton yang mendukung kebijakan Presiden George W. Bush terhadap perang Irak.
Visi dan
intuisinya terhadap pembaruan dalam dunia pendidikan membuat Obama menjadi
seorang calon tunggal presiden Amerika Serikat yang disegani. Dari sembilan
angin pembaruan yang disajikan oleh Barack Obama dalam kebijakan dalam dunia
pendidikan, saya sangat terkesan dengan dua kebijakan Obama.
Pertama, ’Reward expert, accomplished teachers for taking on
challenging assignments and helping children succeed’. Kata
kuncinya disini adalah kesuksesan pendidikan anak. Mengapa pendidikan anak
adalah sebuah kesuksesan sebuah bangsa? Menurut hemat saya, sebuah Negara akan
menjadi Negara yang peka terhadap kemanusiaan jika generasi penerusnya
diberikan pendidikan yang tepat dan sesuai. Sehingga dimasa yang akan datang
generasi penerus ini menjadi sebuah generasi yang memiliki kepekaan terhadap
kemanusiaan tanpa merusak dan memporak poranda sebuah tatanan yang telah dibuat
oleh generasi sebelumnya.
Untuk mensukseskan
pendidikan anak maka para ahli dan pendidik yang dedikatif terhadap pendidikan
anak diberikan penghargaan. Penghargaan tidak semata berhubungan dengan uang,
namun kepuasan dan kesejateraan akan suksesnya sebuah pendidikan. Peran para
ahli dan pendidik menjadi sebuah pembaruan bagi dunia pendidikan melalui
pendidikan anak. Educatio
puerilis renovatio mundi est – the education of the young transform the world. Dengan
demikian maka, suksesnya pendidikan anak membuat mereka tumbuh menjadi generasi
peka terhadap kemanusiaan dan menjadi tranformasi bagi bagi dunia mereka dan
dunia luar secara global.
Kedua, ‘Empower parents to raise healthy
and successful children by taking a greater role in their child’s education at
home and at school’. Para orang tua
dikaryakan semaksimal mungkin untuk menjadi bagian terbesar dalam pendidikan
anak di rumah dan di sekolah. Anak-anak diharapkan untuk dibesarkan dalam
keluarga sehat (jasmani dan rohani) untuk kemajuan pendidikan. Menurut hemat
saya, langkah Obama ini sangat impresif dan ideal. Karena orang tua selalu
berpikir bahwa pendidikan anak-anak mereka adalah tanggungjawab guru di
sekolah. Para orang tua juga merasa bahwa mereka telah mengeluarkan dana yang
tidak sedikit di sekolah tempat anak-anak mereka belajar sehingga sudah layak
dan sepantasnya pendidikan anak-anak mereka menjadi tugas dan tanggungjawab
sekolah dan guru.
Orang tua
dengan pola berpikir seperti ini akan merusak pola pikir dan pendidikan anak
dimasa yang akan datang. Sekolah dijadikan sebagai tempat penitipan anak yang
kasat mata. Sehingga orang tua menjadi lepas dari tanggungjawab sebagai garda
terdepan dan penyedia utama pendidikan anak.
Dalam kebijakan
ini, keluarga adalah sebagai tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak.
Dikeluargalah seorang anak dibentuk dengan karakter dan kepribadian yang
matang. Disaat menghadapi problematika kehidupan baik didalam keluarga dan
lingkungan masyarakat seorang anak akan mampu beradaptasi dan menghadapi
permasalahan tersebut sesuai dengan pembekalan yang dipelajari dari lingkungan
keluarganya. Tentu juga, sebuah keluarga dibekali dengan pendidikan yang susai
dan memadai untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak
digenerasi mereka.
Dengan
pendidikan keluarga yang baik, benar, sehat dan sukses maka para orang tua juga
membantu untuk menanggulangi kenakalan remaja yang bisa membuat meraka putus
sekolah atau drop out. Karena
seperti kita ketahui bahwa kenakalan remaja terjadi karena orang tua melepas
tanggungjawab terhadap pendidikan anak. Dengan demikian, maka pendidikan anak
yang baik, benar, sehat dan sukses dari keluarga akan membentuk anak-anak
menjadi generasi yang madiri dan peka terhadap kemanusiaan dan lingkungan.
Dengan berbekal
pendidikan anak yang baik, benar, sehat dan sukses, di lingkungan keluarga dan
sekolah serta didukung oleh para ahli pendidikan dan pendidik yang dedikatif,
Barack Obama menghembuskan angin pembaruan bagi seluruh elemen masyarakat
Amerika Serikat untuk tercapainya sebuah masyarakat ramah dan peka terhadap
kemanusian dan lingkungan baik dimana mereka tinggal dan masyarakat dunia
secara global.
1.
Biografi singkat
2.
Teori kepemimpinan obama
3.
Visi dan misi kepemimpinan
4.
Motto
5.
Gaya kepemimpinan
6.
Kebijakan
7.
Prestasi yang pernah diraih dalam
kepemimpinan
8.
Kendala-kendala dalam memipin
Komentar
Posting Komentar